Selasa, 23 Maret 2010

Rumah Apung sebagai Rumah Anti Banjir

Lagi-lagi di musim hujan ini terjadi banjir di mana-mana. Rumah rusak, barang-barang hancur... terbayang berapa kerugian yang ditanggung. Belum lagi biaya untuk pembersihan dan perbaikan.

Sebelumnya saya sempat "meluncurkan" ide dimana rumah panggung sebagai rumah anti banjir. Ada ide menarik dari laman RISTEK, yaitu mengenai rumah yang dapat mengapung. Gambarannya seperti ini (diambil dari lama ristek tersebut) :


(Jadi teringat rumah apung di pinggir pantai yang pakai drum bekas sebagai pelampungnya....)

Teknologi rumah apung tersebut, katanya diambil dari Belanda. Mungkin ga ya dibuat di INdonesia?

Bahan rumahnya adalah kayu, supaya ringan. Di Indonesia, kayu banyak dong yaa... Kemudian pilarnya dari beton dan baja. Kedua material tersebut juga ada di Indonesia. Lantai berfungsi sebagai lambung kapal. Nah.. ini dia nih.. perlu teknologi material khusus untuk buat lantai seperti itu. Semoga ada yang mencoba membuatnya di Indonesia, sehingga bisa dikembangkan lebih lanjut. Bisa mengatasi daerah perumahan yang sering kebanjiran.

Selasa, 09 Februari 2010

Ulasan Proyek : Rumah Tinggal Paseban Jakarta Pusat


Rumah tinggal ini mempunyai konsep rumah tinggal sehat. Penerapan sistem ventilasi udara alami dan pencahayaan alami dilakukan pada seluruh ruangan. Sehingga pada siang hari tidak perlu menyalakan lampu karena ruangan cukup terang. Ruang dalam pun terasa "adem" dan udara terasa segar, dengan suhu ruang yang lebih rendah daripada di luar rumah.

Bentuk rumah mengikuti keinginan pemilik yang menyukai bentuk minimalis dengan bentuk jendela yang panjang. Begitu pula dengan permainan warna yang menggunakan "tone" warna abu-abu dan batu alam.

Tata letak ruangan mempertimbangkan kebutuhan penghuninya. Pada lantai dasar terdapat ruang tamu, ruang duduk dan ruang makan, ruang tidur utama, dapur dan halaman dalam. pada lantai dua terdapat 2 kamar tidur, kamar mandi, ruang duduk kamar tidur pembantu, dan ruang jemur.



Halaman dalam ini menjadi paru-paru rumah, menjadi sumber udara alami dan pencahayaan alami untuk ruang tidur, ruang makan, kamar mandi dan ruang duduk lantai 2.

Void tangga menjadi aksen ruang dan menerima pantulan cahaya dari ruang duduk di lantai 2. Ini menjadi salah satu sumber pencahayaan di lantai 1.





Ruang dapur menyatu dengan ruang makan. Letaknya yang berhubungan langsung dengan halaman dalam, membuat ruangan ini menjadi terang tanpa perlu pencahayaan lampu di siang hari.

Jendela yang besar pada ruang duduk di lantai 2 diposisikan menghadap ke taman. Sehingga keindahan taman pada halaman dalam dapat dinikmati tidak hanya di lantai 1 tetapi juga di lantai 2. Dari jendela inilah cahaya memantul ke void tangga.

Dengan lebar lahan 6 m, perlu "trik" khusus dalam mendesain agar tidak terasa sempit. Konsep ruang mengalir dengan langit-langit yang tinggi berhasil membuat ruangan menjadi lega dan terasa luas.

Kamis, 12 November 2009

Perancangan Rumah Pinang Nikel

Perancangan rumah ini, awalnya merupakan renovasi dari kediaman awal dari owner yang berupa rumah satu lantai dengan 3 kamar tidur. Kebutuhan renovasi ini didorong oleh mulai rusak nya kuda-kuda kayu dan kusen oleh rayap yang memang banyak terjadi didaerah Pondok Indah. Penggantian kuda-kuda ini berarti membuka seluruh atap dari rumah eksisting dan menggantinya dengan kuda-kuda baja ringan. Renovasi ini merupakan konstruksi besar dan sekaligus menjadikan 2 lantai karena kebutuhan akan 3 kamar tidur untuk anak pada 1 lantai tidak mencukupi dalam lahan ini.

Pada rumah existing, owner menyukai adanya taman dalam rumah yang menyebabkan terjadinya void yang langsung ke atap dan berniat untuk mempertahankan taman ini. Void ini menyebabkan air hujan jatuh langsung kedalam taman, penempatan void ini membawa sirkulasi udara pada rumah ini tapi sekaligus mempunyai kelemahan apabila hujan deras percikan air dapat mengenai area lain disekeliling taman. Mempertahankan taman ini menyebabkan perancangan dari rumah ini unik dan menjadi daya tarik dari rumah ini. Selain taman di tengah ini, terdapat taman belakang yang berfungsi sebagai sirkulasi udara untuk kamar tidur dan k mandi.
Keputusan perancangan pertama yang dilakukan adalah mempertahankan architectural footprint dari existing rumah. Kedua taman di pertahankan sebagai sarana sirkulasi udara dan pencahayaan dari rumah ini. Owner juga menginginkan untuk rumah tidak memakai AC pada setiap ruang, hal ini menuntut arsitek untuk membuat desain yang mempunyai sirkulasi udara pada seluruh ruang. Untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik pada tiap ruang diputuskan dengan memakai ceiling yang tinggi dan pada ruang keluarga /area taman menggunakan sistem loft atau menggunakan void. Jarak antar lantai pun diambil 3.5m sehingga didapatkan tinggi ceiling 3 meter bahkan pada lantai 1 tidak ditutup oleh ceiling yaitu beton difinish cat.

Pembagian ruang pada dasarnya mempertahankan existing rumah, dengan lahan berukuran 8 m x 20 m, daerah servis diposisikan pada sisi selatan selebar 3 m dan sisanya sepanjang 5m diperuntukan fungsi-fungsi utama. Area servis pada lt 1 dan jemur di lantai 2 berada pada depan langsung berhadapan dengan carport, secara berurutan setelahnya adalah dapur dan tangga serta k.mandi lantai 1 yang segaris dengan k mandi lantai 2. Sedangkan pada fungsi utama, r tamu dan r keluarga tidak dibatasi langsung oleh dinding. Kamar tidur utama berada di lantai 1 dan 3 kamar tidur anak serta tambahan r sholat/bermain di lantai 2.

Pemilihan atap satu sisi yang membuka kearah utara pada bagian depan rumah dikarenakan untuk mewadahi masuknya cahaya dan air hujan pada taman yang berada pada ruang keluarga. Sedangkan pada bagian belakang menggunakan atap pelana untuk menutupi penempatan torn air dari jalan depan dan mempermudah aliran air hujan.

Rumah yang menghadap barat, mengakibatkan bukaan pada fasade lantai 2 minimal dan hanya menambah jendela yang menghadap selatan. Bentuk dinding miring dipakai sebagai elemen desain untuk yang merespon bentuk atap utama serta sebagai daya tarik dari jalan lingkungan.

Penggunaan void di lantai 2, mempermudah pencahayaan dan sirkulasi pada selasar antar kamar tidur jendela yang menghadap utara. Dinding pada taman dibentuk pattern yang bertujuan untuk mengurangi kesan kaku dan tinggi. Bentuk pola yang tidak simetris bertujuan untuk menghadirkan kesan dinamis serta menghindarkan kebosanan pada penghuni yang setiap hari berada didalam rumah. Bentuk pola ini juga diulang pada dinding bordes tangga dan fasade rumah. Tingginya ceiling pada ruang keluarga dan terbuka memungkinkan terjadinya potensi percikan hujan yang dapat membasahi area di sekitar taman hal ini dicoba dengan memberikan kawat ram dan besi palang yang berfungsi melemahkan jatuhnya air hujan.

Senin, 26 Oktober 2009

Gempa dan Bangunan

Melihat berita Gempa di Padang, rasanya sangat terenyuh. Bayangkan hanya dalam hitungan detik bangunan rubuh dan menimpa orang-orang yang ada di dalamnya. Apakah ini karena kehendak Allah? Menurut saya, iya. Ajal kan ada di tangan Allah. Manusia hanya bisa berusaha untuk menjaga kesehatannya dan menjaga keselamatannya. Apakah karena kecerobohan manusia? Hanya Allah yang tahu.

Beberapa hari setelah gempa, ada berita bahwa ada rumah tradisional di Sumatera Barat sana, yang umurnya sudah tua, masih bertahan meski digoyang gempa meskipun bangunan baru sekitarnya rata dengan tanah. Ada pesan yang menarik di sini. Rupanya nenek moyang kita sudah belajar banyak dari alam sehingga mampu menciptakan sistem bangunan yang sesuai dengan kondisi tempatnya. Rumah tradisional tersebut tahan terhadap gempa. Rasanya semua pasti setuju bahwa mengantisipasi gempa pada suatu bangunan bukan berarti menentang kehendak Allah. Kita kan diberi otak untuk berpikir dan mendapatkan ilham(termasuk ilmupengetahuan) itu adalah rahmat dari Allah.

Sistem struktur bangunan tradisional memang menarik. Itu harus kita pertahankan. Kita manfaatkan. Sistem struktur yang bukan tradisional pun ada, dan harus dirancang dan dibangun sesuai dengan kaidahnya.

Saya jadi teringat ketika membangun rumah tinggal. Suatu ketika saya mempunyai desain arsitektur rumah yang dilengkapi dengan gambar struktur. Gambar struktur tersebut dihitung oleh insinyur struktur. Ketika pembangunan berjalan, tahukah anda apa kata para pekerja bangunan? "wah tulangannya besar sekali! Kolomnya besar sekali! Pondasinya besar sekali! Dikurangi saja, biasanya lebih kecil dari ini, juga kuat kok. apalagi ini cuma rumah tinggal 2 lantai!". Masih ada komentar lainnya, "Buat sambungannnya susah nih, dihilangkan saja, ga pa pa kok." Waduh, gimana menjelaskan kepada mereka ya, itu kan hasil hitungan orang struktur? Apa bangunan yang mereka buat sudah pernah kena gempa? Kalau iya, seberapa kuat gempa nya ya?

Please teman-teman, jangan abaikan gambar struktur yang sudah dihitung oleh insinyur sipil/struktur. Para insinyur itu mendesain ada ilmunya, ada aturannya. Bukan main tebak-tebakan.

Peace!!

Minggu, 10 Mei 2009

pintu dari bahan sisa

saat berkunjung ke gudang salah seorang retailer lantai kayu [parquete], saya tertarik melihat pintu hasil kreasinya




dari material sisa peti kemas, melalui proses press dan lem, dibuatlah rangka pintu. Pengisi pintu menggunakan parquete sisa [bahan kayu kempas-solid] 2 muka.
secara fungsi, cukup kuat untuk menjadi pintu utama
dan secara visual, hasilnya tampak kasar (rustic) .....
tapi justru beberapa orang menyukai efek ini, bisa sebagai aksentuasi pada bangunan bertema minimalis, ataupun para penyuka rumah bergaya natural




perkiraan harga untuk ukuran pintu ukuran 84x 210 cm (tanpa kunci, lockset dan engsel), sudah dalam kondisi di-vernish / melamik, harga jual pintu jadi ini berkisar Rp 600 ~ 700 ribu rupiah.
Cukup kompetitif, mengingat harga pintu panil biasa dengan bahan rangka kamper-oven/ jati Jawa Barat (di-finish melamik) sudah mencapai harga Rp1,2 juta per pintu

Tapi harus dicermati juga masalah pengolahan bahan sisa peti kemas ini. Terutama proses press dan lem. Sebaiknya menggunakan mesin agar hasilnya cukup halus dan tidak mudah merengkah.

semoga berguna

Rabu, 26 November 2008

Mensiasati Kebutuhan Ruangan

Rumah, sebagai tempat tinggal, idealnya mewadahi seluruh kegiatan penghuninya. Apa artinya kita harus memiliki semua ruangan? bagaimana kalau luas tanah dan luas bangunannya terbatas? bagaimana kalau dananya tidak mencukupi, karena rumah terlalu luas?

Tahap paling awal yang harus dilakukan adalah merumuskan ruangan apa saja yang diperlukan dan untuk kegiatan apa. Buat saja daftarnya, meskipun pada awalnya daftar tersebut akan sangat panjang. Siapa sih yang tidak ingin kalau rumahnya akan menjadi tempat yang paling menyenangkan di dunia ini? Pikirkan kepentingan setiap orang yang akan tinggal di rumah tersebut. Ayah, ibu, anak-anak, kakek, nenek, dan orang lain yang akan tinggal di sana, termasuk pembantu lho...

Setelah itu, coba sederhanakan, mana saja ruangan-ruangan yang dapat digabungkan. Pertimbangannya bisa beragam. Antara lain, bisa bersama-sama beraktifitas di ruangan tersebut. Bisa juga karena waktu aktifitasnya tidak bersamaan. Jadi kalau pagi, dimanfaatkan oleh ibu, kalau malam dimanfaatkan oleh anak, misalnya. Pada tahap ini, seharusnya daftar yang dipunyai sudah lebih sederhana.

Selanjutnya, mulailah dengan memperkirakan berapa luas ruangannya. Pertimbangkan keberadaan perabot seperti lemari, kursi, meja, dll. Dengan demikian, dari daftar tersebut sudah ada perkiraan berapa luas bangunan kita. Apakah angka tersebut menunjukkan luas TOTAL rumah? TIDAK!!! Angka tersebut hanya perkiraan saja lho... luas total rumah anda nantinya bisa jadi lebih besar 20-30% dari daftar tersebut, karena ada yang tidak dihitung dalam tersebut yaitu sirkulasi antar ruangan termasuk tangga (untuk rumah 2 lantai).

Jika luas bangunan kita masih terlalu besar, tentukan prioritas. Mana yang harus ada, mana yang dapat dihilangkan. Atau... perkecil perkiraan luas ruangan. Misalnya dengan menggunakan perabot-perabot yang lebih ukurannya lebih simpel/kecil dan multifungsi.

Kemudian cek lagi luasnya dan susun ulang prioritasnya. Sampai didapatkan daftar ruangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda....

Selanjutnya : "diagram ruangan"

Senin, 05 Mei 2008

RUMAH PANGGUNG SEBAGAI RUMAH ANTI BANJIR

Beberapa waktu yang lalu seringkali kita mendengar berita kebanjiran, tidak hanya di Jakarta tetapi juga daerah-daerah lainnya. Ada yang sudah menjadi “langganan” banjir, tetap saja tidak pindah rumah dengan berbagai alasan. Di antaranya ada yang beralasan beli tanah/rumah di tempat lain tidak punya uang, sedangkan kalau rumah yang kebanjiran dijual, harganya murah.

Sepertinya tidak ada alternatif lain selain tetap bertahan. Padahal kalau rumah sudah terendam banjir, tidak sedikit biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk membersihkannya. Kalau sudah seperti ini, rumah bagaimana yang seharusnya dikembangkan di daerah yang rawan banjir?


Kalau kita lihat rumah tradisional beberapa daerah, bentuknya adalah rumah panggung. Rumah panggung di masa lalu mempunyai banyak manfaat antara lain untuk menghindar dari binatang-binatang liar dan air pasang sehingga tidak masuk ke dalam rumah. Sayangnya, bentuk rumah panggung sudah lama ditinggalkan dan dilupakan oleh masyarakat. Rumah panggung dianggap “kampungan” dan ketinggalan jaman. Bagaimana kalau kita ciptakan rumah panggung modern?







Kalau kita lihat manfaatnya, banyak sekali. Dengan rumah panggung, berarti air banjir tidak masuk ke dalam rumah. Secara materi dan kesehatan, ini sudah sangat menguntungkan. Ruang bawah rumah yang kosong dapat dimanfaatkan sebagai area bermain. Halaman rumah untuk bermain anak akan menjadi lebih luas, asalkan tinggi panggung aman untuk dilalui misalnya 2m. Atau menjadi ruang duduk-duduk santai dengan tempat duduk yang tahan air (metal atau beton) sehingga kalaupun terkena banjir tidak jadi masalah. Manfaatnya akan bertambah kalau permukaan tanah tidak seluruhnya ditutup oleh beton atau semen. Penyerapan air hujan ke dalam tanah akan menjadi lebih baik. Dengan demikian luas serapan air menjadi lebih besar jika mengembangkan rumah panggung.


Mengenai bentuk… sepertinya akan menjadi tantangan buat arsitek untuk berkreasi dan menghasilkan rumah panggung dengan bentuk yang menarik. Misalnya rumah panggung minimalis …. Bisa saja lho, kenapa tidak?

Senin, 28 April 2008

Ulasan Proyek : Rumah Tinggal dengan Fungsi Tambahan

Produk desain

Produk desain rumah ini adalah gambar skematik, yang terdiri denah, tampak, dan perspektif 3D.







Deskripsi Kebutuhan dan Keinginan Klien

Rumah tinggal seringkali difungsikan ganda. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat usaha atau kegiatan lainnya yang sesekali terjadi dan membutuhkan ruang khusus.

Rumah tinggal ini pun mempunyai fungsi ekstra yaitu menjadi tempat kumpul keluarga besar dan tempat senam yang berlangsung seminggu sekali. Sebagai tempat kumpul keluarga diharapkan anak-anak dapat bermain dan berlari. Sesekali mungkin diadakan acara bakar sate/jagung atau barbeque. Sebagai tempat senam seminggu sekali, tentunya diperlukan ruangan yang cukup luas dan udara yang segar. Karena berlokasi di daerah yang cukup sejuk (Bandung), maka diharapkan tanpa menggunakan AC, udara tetap terasa nyaman di saat acara senam berlangsung.


Dari segi bentuk bangunan, klien menginginkan bentuk yang terlihat lebih simpel dan memanfaatkan material batu alam, tetapi tetap diinginkan ada bagian muka bangunan yang warna catnya dapat diganti-ganti.


Konsep desain

Untuk mewadahi kebutuhan dan keinginan khusus tersebut, konsep utama rumah ini adalah ruang mengalir dimana ruang menjadi tidak banyak sekat. Oleh karena itu
disediakan ruang-ruang semi terbuka yang dapat sewaktu-waktu dialihfungsikan.

Fungsi-fungsi privat seperti ruang tidur utama dan anak-anak diletakkan di lantai 2 sehingga meskipun ada acara, ruang-ruang tersebut tidak akan terganggu.




DESAIN











Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari klien, maka rumah tinggal ini didesain sebagai berikut:

  • Ruang tamu dibuat terbuka ke arah taman dalam.
  • Ruang garasi dan taman tidak bersekat, sehingga sewaktu-waktu garasi dan taman dapat digunakan untuk senam bersama atau tempat bermain anak-anak di kala acara kumpul keluarga besar.
  • Taman dalam memiliki kolam sehingga dapat dinikmati dari ruang tamu dan garasi.
  • Ruang keluarga dan ruang makan dibuat tanpa sekat, sehingga ruangan terasa lebih luas.
  • Musholla berada di pojok, jauh dari TV. Musholla memiliki sedikit lubang cahaya dari atas (skylight), sehingga akan terlihat permainan bayangan matahari yang akan memberikan kesan tenang dan artistik.
  • Ruang bawah tangga dimanfaatkan sebagai kamar mandi dan lemari pakaian kamar tidur tamu.
  • Ruang tidur utama cukup luas, dilengkapi dengan wardrobe dan kamar mandi.
  • Ruang tidur seluruhnya mempunyai jendela kea rah luar untuk mendapatkan cahaya dan udara alami.

Selasa, 12 Februari 2008

Merencanakan Dapur



Salah satu area servis di dalam rumah tinggal adalah dapur dimana menjadi tempat mengolah bahan makanan. Sebagai salah satu fungsi servis, seringkali perencanaan dapur menjadi terabaikan.

Memang kebutuhan setiap orang pada sebuah dapur berbeda-beda. Ada yang senang memasak, sehingga ukuran dapur luas dan dipenuhi dengan peralatan yang lengkap. Ada juga yang tidak terlalu suka berlama-lama di dapur atau lebih banyak menggunakan jasa catering untuk memenuhi kebutuhan makanan di rumah. Yang demikian itu tentunya tidak membutuhkan dapur yang luas. Ada juga yang dapurnya digabungkan dengan ruang makan. Salah satu alasan yang pernah dilontarkan adalah karena di saat bunda memasak di dapur, si anak dapat menggunakan meja makan sebagai meja belajarnya.

Meskipun sangat bervariasi, ada beberapa hal standar yang sebaiknya dipenuhi dalam merencanakan dapur.

Tata letak
Dilihat dari kegiatan yang dilakukan di dapur, ada 3 kegiatan utama yaitu
1. persiapan
2. pengolahan
3. penyajian

1. Persiapan. Di dalam kegiatan persiapan, terdapat kegiatan penyimpanan, pencucian, pemotongan bahan-bahan. Sehingga untuk memenuhi kegiatan 1, diperlukan lemari penyimpanan bahan makanan (kulkas), bak cuci, meja potong, dan peralatan lainnya yang mungkin diperlukan misalnya food processor, blender dst.nya. Semakin banyak peralatan yang ingin digunakan tentunya akan memerlukan ruang lebih luas.

2. Pengolahan. Untuk mengolah atau memasak makanan, bisa dilakukan proses menggoreng, merebus, memanggang, dll. Sehingga untuk memenuhi kegiatan 2, diperlukan kompor, tabung gas (jika menggunakan kompor gas), wajan, panci, oven, dll.

3. Penyajian. Untuk menyajikan makan yang telah diolah, perlu disiapkan wadah untuk disajikan di meja makan, atau meja saji. Sehingga untuk kegiatan 3 diperlukan tempat penyimpanan wadah/piring/mangkuk dll. Secara peletakan ruang, area penyajian ini sebaiknya dekat dengan ruang makan atau meja makan.

Ketiga kegiatan tersebut merupakan kegiatan utama di dalam dapur yang sifatnya berurutan. Dari kegiatan 1 ke kegiatan 2, dari kegiatan 2 dilanjutkan ke kegiatan 3. Sebenarnya setelah penyajian akan berlangsung kegiatan pembersihan. Fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan ini sudah tersedia di kegiatan 1.


Diagram tata letak dapur dapat dilihat pada gambar.







Ventilasi Udara
Di dalam proses pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau-bauan yang mungkin akan mengganggu. Terkadang juga dihasilkan asap. Oleh karena itu, sangat penting untuk merencanakan dapur dengan aliran udara yang baik.

Jika memungkinkan, gunakan sistem ventilasi pasif. Caranya dengan membuat lubang angin di dua sisi dinding yang berseberangan. Seringkali karena kondisi ruangan dan keterbatasan lahan, hal tersebut sukar untuk dilakukan. Untuk mengatasinya, perlu dibuat exhaust fan, yang akan mengeluarkan udara panas dari dapur.


Alternatif Denah
Berdasarkan bentuk ruang, terdapat beberapa alternatif denah seperti yang terlihat pada gambar. Bentuk ruangan yang memanjang, cenderung menggunakan meja dapur di satu sisi. Sedangkan bentuk ruang yang cenderung bujursangkar bisa menggunakan meja dapur 2 sisi atau siku.

Masih terdapat alternatif lain yang dapat Anda kembangkan sendiri. Yang penting adalah pertahankan diagram aktivitas dapur (linear atau segitiga) dan perhatikan persyaratan-persyaratan kenyamanan seperti aliran udara, pencahayaan, dan sirkulasi.

Untuk memperkirakan apakah lebar ruangan cukup memadai dan nyaman pada saat digunakan, perlu diperiksa terhadap ukuran standar meja dapur dan sirkulasi. Sebagai acuan, berikut ini adalah beberapa ukuran standar. Biasanya lebar meja dapur adalah 50-60 cm. Tinggi meja dapur sekitar 75-80cm. Lebar sirkulasi dimana ada satu meja kerja adalah 80-90 cm. Lebar sirkulasi dimana ada 2 meja kerja adalah 120 cm.

Kamis, 13 Desember 2007

Pemanasan Global dan Rumah Ramah Lingkungan

Terinspirasi dari seminar “Design & Survive: The Role of Architect in Response to Climate Change” di Senayan City – Jakarta, 27 November 2007


Setelah mengikuti seminar tersebut, saya langsung teringat dengan blog rumah-arsitek ini. Sepertinya isu dari seminar tersebut cocok untuk dirangkum dan dimasukkan ke dalam blog ini.

Isu pemanasan global
Dulu sekitar tahun 80-an saat saya masih tinggal di Bandung, pada saat hujan, tidak hanya air yang turun ke bumi tetapi juga butiran-butiran es. Setiap pagi, selalu terasa dingin dan berembun. Tetapi sekarang…. Bandung sudah terasa panas. Dan ternyata peningkatan temperatur itu terjadi dimana-mana di seluruh dunia.

Rupanya bumi semakin lama semakin panas. Temperatur udara meningkat. Es di kutub mencair. Salju di puncak gunung meleleh, akibatnya permukaan air laut naik, banjir pasang pun terjadi. Pantai akan semakin menjorok ke daratan.

Mengerikan….

Sebenarnya proses pemanasan bumi terjadi akibat ulah manusia juga. Banyak aktifitas kita sehari-hari yang pada akhirnya adalah menyumbangkan “panas” pada bumi. Pemakaian AC, pemakaian lemari pendingin, pemakaian kendaraan bermotor, pemakaian listrik, bahkan sampai dengan pemakaian kantong plastik yang ternyata pembuatannya memakan energi yang tidak sedikit.

Apakah ini berarti kita harus kembali ke jaman purba? Tidak pakai listrik, tidak pakai kendaraan bermotor? Yang dapat kita lakukan sekarang adalah seminimal mungkin menggunakan energi, apalagi yang bersumber dari fosil. Mudah-mudahan semakin banyak ahli-ahli yang menemukan material-material baru yang ramah lingkungan. Mudah-mudahan semakin banyak produsen-produsen yang menghasilkan alat-alat dan perangkat yang hemat energi.


Rumah yang Ramah Lingkungan
Banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi “sumbangan” ke pemanasan bumi. Kalau kita berbicara dari sudut desain rumah dan kegiatan sehari-hari di dalam rumah, maka kita bisa mulai dari apa yang dapat kita lakukan.

Jika sedang dalam proses mendesain rumah, sebaiknya kita mulai menerapkan konsep rumah hemat energi. Kita harus lebih banyak memanfaatkan pengudaraan alami dan pencahayaan alami. Desain ruang sedemikian rupa sehingga jika digunakan tidak bergantung sepenuhnya pada AC dan lampu.

Memanfaatkan cahaya matahari harus cermat. Yang kita perlukan adalah “terang” nya, sedangkan “panas” nya harus kita hindari. Jendela kaca harus berkanopi (memiliki “sun shading”), sehingga terpaan langsung cahaya matahari dapat diminimalkan. Bentuk “sun shading” ada yang vertikal dan ada yang horisontal. Pemanfaatan keduanya harus disesuaikan dengan posisi jendela kita, apakah menghadap timur/barat atau utara/selatan.
Energi matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik. Yang sudah banyak digunakan adalah pemanfaatan energi matahari untuk memanaskan air.

Untuk memanfaatkan pengudaraan alami, perlu diperhatikan arah angin. Agar udara di dalam rumah dapat mengalir maka harus ada lubang ventilasi pada arah tegak lurus datangnya angin. Jika sejajar dengan arah angin, maka sedikit sekali kemungkinan angin akan masuk ke dalam rumah.

Jika harus menggunakan sistem pengudaraan buatan (Air Conditioning) dan penerangan buatan (lampu), sedapat mungkin menggunakan yang hemat energi. Sekarang ini sudah banyak lampu yang hemat energi. AC yang digunakan harus rutin dibersihkan. Temperatur AC dipasang pada suhu ruangan yaitu 25-26 C.

Kita pun harus mulai membiasakan diri untuk selalu bijak dalam menggunakan listrik. Matikan lampu yang tidak perlu. Peralatan elektronik yang jarang digunakan, dimatikan saja, jangan menggunakan mode “standby”.

Tindakan yang kita lakukan menghadapi pemanasan global, sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan hemat energi. Upaya-upaya menjaga lingkungan harus dimulai dari setiap rumah. Misalnya, jangan hanya berharap akan ada taman kota yang penuh dengan pohon-pohon hijau sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.
Mungkin sudah saatnya bagi kita, di setiap rumah, mulai menanam satu pohon. Lebih banyak tentunya lebih baik. Selain itu, di setiap rumah mulai membuat sumur resapan. Paling tidak satu sumur resapan. Dengan demikian air hujan tidak mengalir di permukaan tanah begitu saja, sehingga akan menambah volume air banjir dan air tanah menjadi semakin kritis.

Ada baiknya pula kalau kita mulai memperhatikan untuk tidak menutup seluruh permukaan tanah di halaman rumah dengan perkerasan yang kedap air. Ada rumah tinggal yang seluruh halamannya ditutup adukan semen atau concrete-block/paving-block beralaskan adukan semen dengan tujuan untuk mudah dibersihkan. Sebaiknya kita tidak melakukan yang demikian.

Banyak hal yang dapat kita lakukan. Kita mulai dari yang mudah bagi kita. Sedikit tindakan lebih baik daripada tidak sama sekali.
Kira-kira apa lagi yang dapat kita lakukan untuk bumi kita tercinta, sebagai warisan untuk anak-cucu kita?

Senin, 10 Desember 2007

Merencanakan Program Ruang dan Diagram Ruang

Tanya:
Assalamualaikum Bapak / Ibu Arsitek,
Nama saya Vivi, saya baru beli rumah di Tangerang type 22/72. Saya mohon masukkannya untuk berbagi dalam hal merancang rumah. Saya ingin membangun 2 lantai. Untuk lantai dasar saya mau ada :

1. 1 kamar utama
2. 1 kamar mandi
3. ruang keluarga
4. ruang tamu
5. dapur
6. taman belakang
7. teras
8. carport
9. taman depan

Untuk lantai 2 :

1. 2 kamar anak
2. ruang sholat
3. tempat jemuran
4. teras atas

Saya rasa cukup demikian. Saya menunggu jawaban anda secepatnya. Terima kasih

Wassalamualaikum..Wr.. Wb..
Vivie


Jawab:

Wa alaikum salam….. Ibu Vivie…
Sepertinya Ibu ingin segera mengembangkan rumah yang baru dibeli. Sayangnya, data kondisi eksisting yang Ibu berikan sangat minim. Mudah-mudahan penjelasan di bawah ini dapat membantu.

Dalam perancangan rumah, tahap awal yang harus dilakukan adalah menyusun program ruang yang terdiri dari nama-nama ruangan seperti yang telah Ibu buat dan perkiraan luasannya.

Pada tanah di atas 72 m2, area yang dapat dibangun dengan asumsi KDB 70% adalah +/- 50 m2 pada lantai dasar. Ini berarti luas lantai total pada lantai dasar tidak boleh melebihi 50 m2. Carport dan taman masuk dalam “ruang terbuka”, jadi tidak masuk dalam perhitungan luas lantai. (KDB-Koefisien Dasar Bangunan, adalah suatu angka yang ditetapkan oleh Dinas Tata Kota. Untuk daerah yang berfungsi sebagai resapan air, angka KDB sangat kecil bisa sampai 30%. )

Perkiraan luas ruangan adalah sebagai berikut:
Lantai 1:
Kamar utama 12 m2
Kamar mandi 3 m2
Ruang Keluarga 16 m2 (juga berfungsi sebagai ruang makan)
Ruang Tamu 6 m2
Dapur 5 m2
------------------------------------------
Subtotal 42 m2
Sirkulasi 15-20% 8 m2
------------------------------------------
Total 1 50 m2


Lantai 2:
Kamar Anak 1 9 m2
Kamar Anak 2 9 m2
Ruang Sholat 6 m2
Cuci Jemur 6 m2
Kamar mandi 3 m2
------------------------------------------
Subtotal 33 m2
Sirkulasi 15-20% 6 m2
------------------------------------------
Total 2 40 m2

Luas teras tidak dicantumkan karena dapat disesuaikan pada waktu merancang.
Luas carport ideal adalah sekitar 2,4 x 5 m, sirkulasi di sekitar kendaraan yang di parkir akan terasa nyaman. Seringkali karena tanah tidak mencukupi, ukurannya menjadi lebih kecil.

Berdasarkan perkiraan luas tersebut, denah dapat disusun dan disesuaikan dengan ukuran tanah dan kondisi setempat.

Beberapa masukan tentang desain adalah sebagai berikut:

  • Agar ruangan tidak terasa sempit, sebaiknya ruang tamu dan ruang keluarga menyatu.
  • Ruang bawah tangga dimanfaatkan untuk kamar mandi pada lantai 1.
  • Taman belakang sedapat mungkin berada di antara dapur, ruang keluarga dan kamar mandi.
  • Bentuk ruang sholat harus memperhatikan arah kiblat. Sehingga ukuran dan kapasitas ruangan akan optimal

    Berikut ini adalah diagram ruang yang menunjukkan hubungan setiap ruang. Tata letak dan ukuran ruang dapat diatur dan disesuaikan dengan ukuran tanah.

Kamis, 22 November 2007

Renovasi Lebih Mahal daripada Membangun Baru?

Tanya:

Saya berniat merenovasi rumah dari yg satu lantai menjadi 2 lantai karena kebutuhan jumlah kamar yg kurang, dg merombak sebagian dari bangunan (lantai 1) yg ada sebelumnya. Yg ingin saya tanyakan adalah
1. Apakah langkah saya merombak sebagian lantai 1 dg menambah 1 lantai bisa menghemat biaya pembangunan atau sama saja jika saya merombak total lantai bawah? Masalahnya saya juga tidak tahu apakah bangunan sebelumnya mempunyai pondasi yg cukup utk 2 lantai.
2. Berapa kira kira biaya per meter perseginya untuk bangunan 2 lantai untuk rumah sedang (menengah) untuk saat ini?

Terimakasih saya ucapkan atas perhatiannya
Ade

Jawab:
Ibu Ade yang terhormat, terima kasih atas pertanyaannya.

Merenovasi rumah dengan cara merombak sebagian bangunan dapat dilakukan jika bagian rumah yang tidak dirombak:

  • tidak banyak mengalami perubahan desain
  • tidak banyak terkena bongkaran untuk pondasi 2 lantai
  • kondisi bangunan masih kuat
  • areanya cukup luas
  • desain bangunan baru masih terlihat serasi dengan bangunan lama

Tentunya cara ini dapat menghemat biaya.

Yang sering terjadi, pada waktu proses renovasi dan bangunan hampir selesai, bangunan lama jadi terlihat “buruk” dan akhirnya pemilik rumah merasa harus membongkar bangunan lama. Perubahan-perubahan rencana di tengah jalan seperti itu dapat membuat biaya menjadi lebih besar.

Jika pondasi pada bangunan lama tidak diketahui, pada waktu konstruksi dapat digali dan dilihat apakah pondasinya memungkinkan untuk 2 lantai. Jika tidak maka dapat dilakukan perkuatan-perkuatan setempat atau di lapangan sering disebut pondasi suntik.
Ini menyebabkan bangunan lama harus dibongkar pada titik-titik pondasi (sebagian area lantai dan dinding perlu akan perlu dibongkar). Bisa Ibu bayangkan, jika di ruangan 3x3 terdapat galian untuk 4 titik pondasi di setiap pojok ruangan, maka hampir seluruh lantai dibongkar.

Jadi, sebaiknya Ibu Ade pastikan dahulu kondisi bangunan yang ada sekarang, dan rencanakan lantai 2 sedemikian rupa sehingga tidak banyak membuat bongkaran pada bangunan yang lama. Misalnya dengan cara, bangunan lantai 2 akan berada di atas separuh bangunan lama, separuhnya lagi tetap utuh hanya 1 lantai.

Biaya konstruksi bangunan akan sangat bervariasi, tergantung material yang digunakan, kualitas hasil kerja dan tingkat kesulitan pengerjaan. Perkiraan harga untuk kualitas menengah, sekitar 2 juta - 3 juta/m2.

Minggu, 04 November 2007

Produk Gambar Arsitektur

Gambar desain bangunan yang lengkap terdiri dari gambar Arsitektur, Struktur, Mekanikal dan Elektrikal. Gambar tersebut dikerjakan oleh ahlinya masing-masing. Seringkali, pada desain rumah tinggal yang “dianggap” tidak terlalu rumit, gambar Mekanikal-Elektrikal ataupun gambar Struktur dibuat tidak lengkap.


Untuk gambar arsitektur, ada yang disebut gambar skematik, gambar pengembangan dan gambar detil. Mana yang harus Anda gunakan saat membangun rumah? Silakan lihat di tulisan “Cakupan Jasa Arsitek”. Sedangkan bentuk tampilannya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Contoh Gambar ilustrasi: TAMPAK.
Dapat berupa gambar tampak berwarna atau 3D (tiga dimensi) berupa gambar perspektif dari berbagai arah pandang. Gambar illustrasi biasanya digunakan pada tahap skematik untuk memberikan bayangan kepada klien tentang tampilan/wujud rumahnya.






Contoh Gambar Skematik: DENAH.
Gambar skematik dapat berupa gambar denah, tampak, potongan dan Perspektif.













Contoh Gambar Detil : POTONGAN
Gambar detil dapat berupa gambar rencana tapak, denah, tampak, potongan, rencana atap, rencana lantai, rencana plafon, detil kamar mandi, detil tangga, detil pintu dan jendela, dst.

Kamis, 01 November 2007

Tips Rumah Sehat (2)


Rumah pada lahan yang sempit, seringkali memiliki ruang-ruang yang tidak mendapatkan pencahayaan dan udara alami. Akibatnya, ruangan menjadi terasa pengap dan gelap. Lampu pun harus dinyalakan di siang hari. Selain tidak sehat, pemakaian energi listrik pun menjadi boros.

Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membuat taman terbuka yang berada diantara ruang-ruang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan ruang luar. Sehingga taman menjadi sumber udara alami (“paru-paru” rumah) dan sumber cahaya alami di siang hari.

Ukuran taman tidak harus besar. Bahkan lebar satu meter pun dapat Anda kreasikan. Kalau bisa lebih besar akan lebih baik. Yang perlu diperhatikan adalah taman tersebut tidak beratap. Kalau pun beratap untuk melindungi ruangan dari hujan, sebaiknya menggunakan atap fiber dan memiliki ventilasi udara. Taman dapat berupa taman yang tidak terlalu hijau, yang lebih menonjolkan permainan batu-batuan atau pun air dengan sedikit tanaman. Pada ruangan yang berdekatan dengan taman tersebut dibuat bukaan yang semaksimal mungkin, apakah berupa pintu, jendela yang dapat dibuka atau ventilasi. Agar cahaya dapat dimanfaatkan maksimal, maka pintu ataupun jendela tersebut menggunakan kaca yang cukup besar.

Jika pada rancangan rumah Anda, banyak terjadi ruang-ruang yang tidak memiliki sumber cahaya dan udara alami, maka sebaiknya dibuat beberapa taman di dalam rumah.

Selamat berkreasi!!!

Kamis, 25 Oktober 2007

Kalau Mau Membangun Rumah, Bagaimana Caranya?

Punya rencana untuk bangun rumah. Punya uangnya. Bingung mesti bagaimana, mulai dari mana dan jangan-jangan dana tidak cukup..

Kondisi seperti itu seringkali saya dengar dari beberapa orang yang sedang berencana untuk punya rumah. Belum lagi kalau mereka sudah tanya sana-sini dan mendapatkan informasi yang berbeda-beda. Ada yang bilang: „Aku dulu pake tukang langganan Bapakku, biasanya nanti dia bawa teman-temannya untuk membangun“, “Cari arsitek deh, rumahku di desain oleh Arsitek”, “Coba aja ketemu mandor yang dulu bangun rumah Om ku”, atau “Pake pemborong saja”. Nah lho… jadi mana yang harus diikuti?

Proses sejak dari “keinginan untuk membangun rumah” sampai “rumah siap untuk dihuni”, bisa melalui berbagai cara. Seperti pepatah, Banyak jalan menuju Roma. Jadi… Banyak jalan mewujudkan Rumah.

Kenali dulu prosesnya
Proses keseluruhan dapat disederhanakan menjadi tahap rencana, penggambaran dan pembangunan.

Tahap pertama adalah ada keinginan dan rencana untuk membangun rumah. Anda harus tahu rumah seperti apa yang Anda butuhkan dan inginkan. Ruangan apa saja yang diperlukan. Kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, ruang kerja, kamar pembantu, garasi, gudang, dst. Susun pula rencana mengenai kapan rumah tersebut harus dapat dihuni dan berapa dana yang dimiliki dan sumber pendanaan alternatif.

Selanjutnya Anda perlu gambar untuk panduan membangun rumah. Minimal adalah gambar yang menunjukkan tata letak ruang dan bentuk massa bangunan. Semakin lengkap gambarnya akan semakin menguntungkan buat pemilik rumah. (lih. Tulisan “Cakupan Kerja Arsitek”)

Kemudian, harus ada tim yang akan mengerjakan atau mengkonstruksikan rumah Anda.


Ragam cara
Seluruh proses tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan banyak pihak atau hanya satu pihak saja.

A. Perancang dan pembangun adalah pihak terpisah
Jasa Arsitek dapat anda gunakan untuk mendesain rumah Anda. Manfaatkan seoptimal mungkin. Dengan Arsitek Anda dapat mendiskusikan desain dari berbagai aspek antara lain estetika, kemudahan pemeliharaan, keterbatasan dana dan trend desain. Anda dapat meminta Arsitek untuk membantu Anda melihat proses pembangunan nantinya (jasa supervisi). Biasanya secara berkala arsitek akan datang ke lokasi pembangunan, jika sudah disebutkan dalam perjanjian dengan arsitek.

Jika gambar sudah Anda miliki, Anda dapat mencari kontraktor atau pemborong. Ada yang menawarkan upah dan material sekaligus, ada juga yang menawarkan upah saja sedangkan material dapat Anda beli sendiri atau dibeli oleh pemborong dan kemudian di reimburse sesuai dengan nilai di kuitansi. Untuk pengurusan IMB, Anda dapat meminta kontraktor untuk menguruskan dan nantinya akan dimasukkan dalam biaya penawarannya.

Ada orang yang tidak menggunakan kontraktor atau pemborong, tetapi menggunakan mandor. Sebaiknya kenali dulu kualitas mandor tersebut. Apakah seluruh gambar dapat dibaca dan dipahami dengan baik. Karena ada pula mandor yang tidak dapat membaca gambar dengan baik, terutama gambar-gambar detil sehingga rumah yang dibangun tidak sesuai dengan gambar/desain yang anda inginkan. Pekerjaan detil dikerjakan menurut apa yang biasa dikerjakannya. Untuk pengurusan ijin, ada mandor yang dapat melakukannya ada pula yang tidak.

Untuk mencari informasi mengenai arsitek dan kontraktor, Anda dapat mencari di internet, di iklan media cetak, atau informasi dari saudara/kerabat Anda. Untuk melihat kualitas dan kecocokan dengan jasa yang diberikan, anda dapat meminta contoh-contoh proyek yang pernah dikerjakan. Untuk kontraktor dan mandor, sebaiknya Anda melihat langsung bangunan yang sudah dikerjakan sehingga Anda dapat melihat kualitas/kerapihan hasil kerjanya.

Dengan menggunakan cara ini, Anda perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk mengurus berbagai hal termasuk mencari pihak-pihak yang akan dilibatkan dan dikontrak. Untuk menekan biaya, Anda perlu bernegosiasi dengan cermat. Untuk bernegosiasi dengan kontraktor/pemborong, Anda dapat membandingkannya dengan perkiraan biaya (owner’s estimate) yang dibuat oleh Arsitek jika Anda menggunakan jasanya hingga gambar detil.


B. Perancang dan pembangun adalah satu pihak
Terkadang ada arsitek yang juga mempunyai jasa membangun. Jadi desain dan bangunan dikerjakan oleh arsitek dan timnya. Ada juga kontraktor/pemborong yang juga mengerjakan desain. Istilahnya kontraktor Rancang-Bangun. Kenali betul karakter desainnya apakah sesuai dengan selera Anda. Begitu pula hasil bangunannya, apakah kualitasnya sesuai dengan yang Anda inginkan. Bisa jadi desainnya Anda sukai tetapi hasil kerjanya kurang memuaskan, atau sebaliknya.

Untuk pengurusan IMB biasanya dapat dilakukan oleh arsitek/kontraktor rancang bangun.

Keuntungan dari cara ini adalah Anda tidak terlalu direpotkan karena hanya berhubungan dengan satu pihak hingga rumah Anda siap dihuni. Untuk mendapatkan jasa yang harga dan kualitasnya sesuai dengan Anda, sebaiknya bandingkan satu jasa dengan jasa yang lainnya. Meskipun ada yang menawarkan bahwa Anda tidak perlu membayar fee desain jika menggunakan jasanya. Bukan berarti Anda mendapatkan biaya yang murah. Bisa saja harga konstruksinya sudah dinaikkan. Jadi harus cermat dan membandingkan satu dengan yang lain.


Kualitas Vs Harga
Ini hanya sekedar tips saja. Dalam memilih suatu jasa, jangan hanya didasarkan pada harga. Ada harga, ada kualitas. Ada yang menawarkan harga murah, tetapi kualitasnya buruk atau diturunkan. Dalam proses konstruksi, kualitas dilihat dari kualitas material yang digunakan baik yang terlihat langsung pada bangunan jadi (keramik, cat, dll) mau pun yang tidak terlihat seperti tulangan, pasir, dll. Lihat juga kualitas pemasangannya, misalnya kerapihan dan kebenaran sambungan-sambungan. Supaya tidak terjadi kebocoran, pintu tidak sukar dibuka, pondasi dan kolom kuat, dst. Dalam proses desain, kualitas dilihat dari estetikanya, kebenaran desainnya, nyaman dan aman untuk dihuni. Perlu diingat bahwa ketidaknyamanan ataupun masalah-masalah yang timbul setelah bangunan dihuni, bisa jadi disumbangkan oleh desainnya yang salah atau proses pembangunannya yang tidak benar.
Jadi sekali lagi, lihatlah kualitasnya dulu, baru cek harganya.

Kirim pertanyaan anda ke: seliacipta@gmail.com

Minggu, 21 Oktober 2007

Cakupan Jasa Arsitek

Cakupan jasa arsitek dapat beragam. Anda dapat menggunakan jasanya dalam desain skematik, gambar pengembangan dan gambar detil (gambar kerja). Semakin luas cakupannya, maka semakin banyak waktu yang diperlukan, dan tentunya biaya juga akan lebih besar.

Gambar skematik
Merupakan gambar sederhana yang informasinya tidak detil, lebih difokuskan pada hubungan ruang, posisi bukaan, dan bentuk massa. Gambar yang dihasilkan adalah denah, tampak, dan potongan. Terkadang ada yang dilengkapi dengan gambar perspektif atau 3D (tiga dimensi). Semua berisi informasi secara umum. Misalnya pada gambar denah terlihat ruang-ruang dengan posisi pintu jendela. Tetapi belum ada ukuran dan bentuk detil jendela dan pintu.

Gambar pengembangan
Merupakan gambar yang informasinya sudah lebih jelas. Di sini arsitek sudah merancang lebih jauh antara lain pola lantai, pola plafond, gambar pintu jendela yang dilengkapi dengan ukuran.

Gambar detil
Merupakan gambar yang menunjukkan keseluruhan bagian bangunan secara lengkap. Ciri khas pada gambar ini adalah informasi ukuran dan materialnya sangat terinci. Misalnya untuk dinding, terlihat informasi mengenai material dan ukuran lapisan dinding, mulai dari material utama dinding (bata, batako, beton ringan, dll) sampai dengan finishing (cat, batu alam, kamprot, dll). Pada gambar pintu dan jendela dilengkapi ukuran yang detil misalnya ukuran kusen dan bentuk kusennya, ukuran kaca dan jenis kacanya.

Gambar mana yang harus digunakan?
Idealnya, pada saat hendak membangun rumah, Anda memiliki gambar detil. Dengan gambar detil maka kontraktor ataupun pemborong yang berpengalaman, dapat memperkirakan harga dan waktu yang diperlukan untuk pembangunan. Tawar menawar pun akan lebih mudah karena kontraktor atau pemborong mengetahui dengan pasti material dan tingkat kesulitan yang akan dikerjakan. Anda pun dapat menggunakan gambar tersebut sebagai kontrol terhadap kerja kontraktor/pemborong, apakah sudah sesuai dengan yang Anda minta. Jika Anda meminta jasa arsitek untuk gambar detil, Anda dapat meminta dibuatkan perkiraan harga bangunannya (owner’s estimate). Ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui apakah tawaran dari kontraktor/pemborong terlalu mahal atau tidak.

Kalau Anda menggunakan gambar pengembangan, maka ada hal-hal yang detil yang harus Anda putuskan pada waktu membangun. Yang harus Anda perhatikan adalah pada waktu membangun bagian yang tidak terlihat atau tidak tercantum pada gambar, pastikan bahwa secara teknis benar dan secara kualitas sesuai dengan perjanjian. Perjanjian antara Anda dengan kontraktor/pemborong harus jelas dalam hal harga dan kualitas. Jangan sampai Anda meminta kualitas kelas I yang dibangun adalah kelas II. Begitu pula sebaliknya. Semakin jelas perjanjiannya semakin baik. Sehingga Anda dapat mengontrol kerja kontraktor/pemborong meskipun gambar yang dimiliki tidak lengkap.

Begitu pula halnya dengan gambar skematik. Karena lebih sedikit informasi yang terdapat dalam gambar, maka akan lebih banyak hal-hal desain yang harus Anda putuskan pada waktu membangun.

Senin, 10 September 2007

TIPS RUMAH SEHAT (1)

Salah satu ciri rumah yang sehat adalah memiliki sistem sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik.

Sistem sirkulasi udara dapat diciptakan dengan menggunakan lubang angin atau ventilasi udara. Ada juga yang menyebutnya bouvenlicht. Agar udara dapat mengalir harus dibuat ventilasi pada dua sisi ruang (dinding). Udara akan bergerak dari lubang di sisi yang satu ke lubang di sisi yang lain. Posisi kedua dinding idealnya berseberangan, agar semakin banyak udara di dalam ruangan yang bertukar dengan udara baru. Tetapi jika tidak memungkinkan, lubang angin dapat diletakkan pada dinding yang bersebelahan. Minimal satu dinding yang ada lubang anginnya berhubungan langsung dengan ruang luar.

Pencahayaan pada ruangan sebaiknya bersumber pada cahaya alami. Sehingga selain sehat juga dapat menghemat energi. Tidak perlu menyalakan lampu di siang hari. Cahaya alami (matahari) yang masuk ke dalam ruangan dapat membersihkan ruangan sekaligus menghangatkan ruangan agar tidak lembab. Untuk itu pada setiap ruangan sebaiknya dibuat jendela kaca yang berhubungan dengan ruang luar. Dalam menentukan besar dan letak jendela, harus diperhatikan arah matahari. Cahaya matahari yang langsung dari barat akan membuat ruangan sangat panas. Gunakan kanopi/overstek jendela untuk menaungi jendela dari cahaya matahari langsung.

Dalam mendesain rumah sehat, sedapat mungkin setiap ruangan memiliki jendela dan lubang angin yang berhubungan dengan ruang luar, sebagai sumber udara dan cahaya alami. Jendela yang dapat dibuka akan membantu lancarnya sirkulasi udara terutama di siang hari.

Rabu, 29 Agustus 2007

KONSULTASI DENGAN ARSITEK

KONSULTASI DENGAN ARSITEK


Dalam merancang rumah seorang arsitek harus memahami benar kebutuhan dan keinginan kliennya. Komunikasi yang baik antara arsitek dengan klien, sangat diperlukan. Oleh karena itu, klien harus menceritakan semua keinginan tentang rumahnya. Semakin banyak yang diungkapkan, maka akan semakin jelas seperti apa rumah impian klien.

Jadi.... yang harus disampaikan kepada arsitek antara lain:

  1. gambar ukuran dan bentuk tanah, lokasi dan topografi
  2. kebutuhan ruangan, kebiasaan-kebiasaan di rumah, hobi, dll
  3. jenis gambar yang dibutuhkan : skematik atau pengembangan atau gambar detil (gambar kerja)
  4. anggaran biaya untuk pembangunan
  5. lamanya proses desain, misalnya 1 bulan gambar harus sudah selesai karena akan segera dibangun


Seringkali keinginan klien begitu banyak dan timbul kendala-kendala, misalnya kendala teknis dan biaya, maka arsitek akan membantu dalam menyusun prioritas, memberikan masukan atau jalan tengah. Mana yang harus dipilih? Keputusan apa yang akan diambil? Tentunya akan diserahkan kembali kepada klien.

Dalam proses desain, arsitek akan „meramu“ sedemikian rupa sehingga desainnya dapat memenuhi tidak hanya kebutuhan klien tetapi juga persyaratan-persyaratan teknis (sistem struktur, mekanikal, elektrikal, dll). Sehingga rumah yang dirancang dapat menjadi rumah yang sehat, aman dan nyaman untuk dihuni.

Minggu, 26 Agustus 2007

PEMBANGUNAN BERTAHAP UNTUK DANA TERBATAS


Rumah seringkali dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keperluan kita saat ini dan di masa mendatang. Misalnya saat ini anak-anak masih kecil, tidur sekamar berdua tidak menjadi masalah. Tetapi bagaimana nanti setelah besar? Sepertinya akan memerlukan kamar tidur sendiri-sendiri. Akibatnya luas rumah jadi besar dan membutuhkan biaya yang cukup besar pula. Sementara dana yang kita miliki saat ini masih minim.

Kondisi-kondisi ini seringkali menghambat kita untuk merencanakan sebuah rumah tinggal. Bagaimana mensiasati keterbatasan dana untuk membangun rumah? Salah satu solusinya adalah dengan membangun secara bertahap. Yang harus Anda lakukan adalah:

1. mengelompokkan kebutuhan ruang
Begitu Anda memutuskan untuk membangun rumah secara bertahap, maka susunlah daftar ruangan yang diperlukan saat ini dan saat nanti. Jika rumah Anda dua lantai maka ruang-ruang yang diperlukan sekarang sebaiknya berada di lantai dasar, sedangkan yang diperlukan di masa mendatang diletakkan di lantai atas. Jika rumah Anda satu lantai maka tata letak ruangan harus diatur sedemikian rupa sehingga ruang-ruang yang diperlukan saat ini berada dalam satu area. Sehingga pada saat pembangunan tahap pertama selesai, rumah akan terlihat utuh, tidak seperti bangunan yang belum selesai.

2. gambar dengan ruangan lengkap
Meskipun pada tahap pertama Anda hanya akan membangun sebagian ruangan, sebaiknya Anda sudah memiliki gambar dengan kondisi ruangan yang lengkap. Hal ini dapat meminimalkan masalah di masa mendatang, ketika Anda hendak membangunan tahap kedua.

3. pentahapan pembangunan
Pentahapan pembangunan bisa dilakukan secara vertikal (lantai bawah dan atas) atau pun horisontal. Misalnya rumah yang Anda rencanakan terdiri dari dua lantai. Anda dapat membangun lantai dasar dulu, nanti setelah ada dana, Anda dapat membangun lantai atasnya. Jika menggunakan cara ini, ada beberapa hal yang harus Anda ingat, antara lain mengenai pondasi. Sejak awal pembangunan, pondasi bangunan sudah dipersiapkan untuk dua lantai. Sehingga jika suatu saat Anda ingin membangun lantai atas, pondasi Anda sudah siap. Jadi tidak banyak bongkaran pada bangunan tahap pertama.
Jika rumah yang Anda rencanakan terdiri dari satu lantai maka Anda dapat membangun satu bagian bangunan terlebih dahulu, baru kemudian bagian lainnya.


Rabu, 22 Agustus 2007

RUMAH MINIMALIS BERMASALAH


Sekarang ini, kita sering mendengar istilah gaya minimalis. Desain baju, minimalis. Desain perabot, gaya minimalis. Begitu pula desain rumah, gaya minimalis. Tidak pernah ada definisi yang jelas tentang apa itu gaya minimalis. Setiap orang bisa saja mengklaim bahwa desainnya minimalis. Mungkin yang bisa dilihat cirinya antara lain penggunaan garis-garis lurus yang tegas dengan sesedikit mungkin permainan detil atau ornamen. Kalaupun ada ornamen, bentuknya juga dibuat simpel.

Penggunaan gaya ini mulai kita lihat dimana-mana. Banyak yang berhasil (artinya rumah tersebut tidak hanya indah dipandang mata tetapi juga nyaman dihuni), tetapi ada juga yang membuat penghuninya kewalahan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul. Ada yang membuat jendela kaca yang besar tetapi oversteknya pendek sehingga jendela tidak terlindung dari cahaya matahari. Ruangan terasa panas. Belum lama dihuni, plitur kusen jendela mulai rusak karena seringnya diterjang hujan dan panas. Atap dibuat terlalu landai, sehingga saat hujan deras bocor dimana-mana.

Mudah untuk mengatasinya, tetapi perlu biaya ekstra. AC perlu dinyalakan sepanjang hari supaya ruangan terasa sejuk dan nyaman. Kalau masih terasa panas, mungkin daya AC nya kurang besar. Jadi tambahkan saja dayanya. Kalau sudah seperti ini, bisa-bisa tagihan listrik jadi membengkak. Adakah cara lainnya? Kaca dilapisi dengan „transparant film“ untuk mengurangi panas yang terserap ke dalam ruangan. Cara ini juga memerlukan biaya lagi. Bagaimana dengan plitur kusen kayu yang rusak? Plitur kembali secara berkala, supaya rumah kembali tampil cantik.

Memang mudah.....tetapi berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan? Bukan hanya itu, pikiran dan waktu Anda juga ikut tersita. Ingin rumah gaya minimalis, tetapi biaya perawatan dan operasional menjadi tidak minimalis.

Apakah masalah-masalah tersebut, wajar? Apakah desain rumah minimalis sudah tepat untuk di Indonesia? Apakah desain tidak bisa mengantisipasi kemungkinan masalah-masalah tersebut?

Desain rumah, seharusnya tidak hanya memperhatikan keindahan. Desain rumah menjadi khas/unik dan menarik, karena desain mengantisipasi kemungkinan masalah-masalah yang timbul, termasuk masalah iklim.

Apapun gaya desain rumah yang akan dipilih, hendaknya kita selalu memperhatikan kondisi iklim di mana bangunan rumah tersebut berada. Misalnya di Indonesia, ada hujan, terkadang udara terasa panas, ada cahaya matahari yang berlimpah, angin dan lain-lain. Desain harus berkompromi dengan kondisi tersebut. Contohnya, jika ingin menggunakan jendela kaca yang besar, harus ada overstek yang lebar, sehingga cukup menaungi jendela kaca dari cahaya matahari terutama di siang hari. Atau, jendela kaca dijorokkan ke dalam, lebih masuk dari pada dinding luar, sehingga jendela tetap terlindungi. Dengan demikian, desain rumah minimalis Anda menjadi tidak bermasalah.