Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Maret 2010

Rumah Apung sebagai Rumah Anti Banjir

Lagi-lagi di musim hujan ini terjadi banjir di mana-mana. Rumah rusak, barang-barang hancur... terbayang berapa kerugian yang ditanggung. Belum lagi biaya untuk pembersihan dan perbaikan.

Sebelumnya saya sempat "meluncurkan" ide dimana rumah panggung sebagai rumah anti banjir. Ada ide menarik dari laman RISTEK, yaitu mengenai rumah yang dapat mengapung. Gambarannya seperti ini (diambil dari lama ristek tersebut) :


(Jadi teringat rumah apung di pinggir pantai yang pakai drum bekas sebagai pelampungnya....)

Teknologi rumah apung tersebut, katanya diambil dari Belanda. Mungkin ga ya dibuat di INdonesia?

Bahan rumahnya adalah kayu, supaya ringan. Di Indonesia, kayu banyak dong yaa... Kemudian pilarnya dari beton dan baja. Kedua material tersebut juga ada di Indonesia. Lantai berfungsi sebagai lambung kapal. Nah.. ini dia nih.. perlu teknologi material khusus untuk buat lantai seperti itu. Semoga ada yang mencoba membuatnya di Indonesia, sehingga bisa dikembangkan lebih lanjut. Bisa mengatasi daerah perumahan yang sering kebanjiran.

Senin, 05 Mei 2008

RUMAH PANGGUNG SEBAGAI RUMAH ANTI BANJIR

Beberapa waktu yang lalu seringkali kita mendengar berita kebanjiran, tidak hanya di Jakarta tetapi juga daerah-daerah lainnya. Ada yang sudah menjadi “langganan” banjir, tetap saja tidak pindah rumah dengan berbagai alasan. Di antaranya ada yang beralasan beli tanah/rumah di tempat lain tidak punya uang, sedangkan kalau rumah yang kebanjiran dijual, harganya murah.

Sepertinya tidak ada alternatif lain selain tetap bertahan. Padahal kalau rumah sudah terendam banjir, tidak sedikit biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk membersihkannya. Kalau sudah seperti ini, rumah bagaimana yang seharusnya dikembangkan di daerah yang rawan banjir?


Kalau kita lihat rumah tradisional beberapa daerah, bentuknya adalah rumah panggung. Rumah panggung di masa lalu mempunyai banyak manfaat antara lain untuk menghindar dari binatang-binatang liar dan air pasang sehingga tidak masuk ke dalam rumah. Sayangnya, bentuk rumah panggung sudah lama ditinggalkan dan dilupakan oleh masyarakat. Rumah panggung dianggap “kampungan” dan ketinggalan jaman. Bagaimana kalau kita ciptakan rumah panggung modern?







Kalau kita lihat manfaatnya, banyak sekali. Dengan rumah panggung, berarti air banjir tidak masuk ke dalam rumah. Secara materi dan kesehatan, ini sudah sangat menguntungkan. Ruang bawah rumah yang kosong dapat dimanfaatkan sebagai area bermain. Halaman rumah untuk bermain anak akan menjadi lebih luas, asalkan tinggi panggung aman untuk dilalui misalnya 2m. Atau menjadi ruang duduk-duduk santai dengan tempat duduk yang tahan air (metal atau beton) sehingga kalaupun terkena banjir tidak jadi masalah. Manfaatnya akan bertambah kalau permukaan tanah tidak seluruhnya ditutup oleh beton atau semen. Penyerapan air hujan ke dalam tanah akan menjadi lebih baik. Dengan demikian luas serapan air menjadi lebih besar jika mengembangkan rumah panggung.


Mengenai bentuk… sepertinya akan menjadi tantangan buat arsitek untuk berkreasi dan menghasilkan rumah panggung dengan bentuk yang menarik. Misalnya rumah panggung minimalis …. Bisa saja lho, kenapa tidak?

Selasa, 12 Februari 2008

Merencanakan Dapur



Salah satu area servis di dalam rumah tinggal adalah dapur dimana menjadi tempat mengolah bahan makanan. Sebagai salah satu fungsi servis, seringkali perencanaan dapur menjadi terabaikan.

Memang kebutuhan setiap orang pada sebuah dapur berbeda-beda. Ada yang senang memasak, sehingga ukuran dapur luas dan dipenuhi dengan peralatan yang lengkap. Ada juga yang tidak terlalu suka berlama-lama di dapur atau lebih banyak menggunakan jasa catering untuk memenuhi kebutuhan makanan di rumah. Yang demikian itu tentunya tidak membutuhkan dapur yang luas. Ada juga yang dapurnya digabungkan dengan ruang makan. Salah satu alasan yang pernah dilontarkan adalah karena di saat bunda memasak di dapur, si anak dapat menggunakan meja makan sebagai meja belajarnya.

Meskipun sangat bervariasi, ada beberapa hal standar yang sebaiknya dipenuhi dalam merencanakan dapur.

Tata letak
Dilihat dari kegiatan yang dilakukan di dapur, ada 3 kegiatan utama yaitu
1. persiapan
2. pengolahan
3. penyajian

1. Persiapan. Di dalam kegiatan persiapan, terdapat kegiatan penyimpanan, pencucian, pemotongan bahan-bahan. Sehingga untuk memenuhi kegiatan 1, diperlukan lemari penyimpanan bahan makanan (kulkas), bak cuci, meja potong, dan peralatan lainnya yang mungkin diperlukan misalnya food processor, blender dst.nya. Semakin banyak peralatan yang ingin digunakan tentunya akan memerlukan ruang lebih luas.

2. Pengolahan. Untuk mengolah atau memasak makanan, bisa dilakukan proses menggoreng, merebus, memanggang, dll. Sehingga untuk memenuhi kegiatan 2, diperlukan kompor, tabung gas (jika menggunakan kompor gas), wajan, panci, oven, dll.

3. Penyajian. Untuk menyajikan makan yang telah diolah, perlu disiapkan wadah untuk disajikan di meja makan, atau meja saji. Sehingga untuk kegiatan 3 diperlukan tempat penyimpanan wadah/piring/mangkuk dll. Secara peletakan ruang, area penyajian ini sebaiknya dekat dengan ruang makan atau meja makan.

Ketiga kegiatan tersebut merupakan kegiatan utama di dalam dapur yang sifatnya berurutan. Dari kegiatan 1 ke kegiatan 2, dari kegiatan 2 dilanjutkan ke kegiatan 3. Sebenarnya setelah penyajian akan berlangsung kegiatan pembersihan. Fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan ini sudah tersedia di kegiatan 1.


Diagram tata letak dapur dapat dilihat pada gambar.







Ventilasi Udara
Di dalam proses pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau-bauan yang mungkin akan mengganggu. Terkadang juga dihasilkan asap. Oleh karena itu, sangat penting untuk merencanakan dapur dengan aliran udara yang baik.

Jika memungkinkan, gunakan sistem ventilasi pasif. Caranya dengan membuat lubang angin di dua sisi dinding yang berseberangan. Seringkali karena kondisi ruangan dan keterbatasan lahan, hal tersebut sukar untuk dilakukan. Untuk mengatasinya, perlu dibuat exhaust fan, yang akan mengeluarkan udara panas dari dapur.


Alternatif Denah
Berdasarkan bentuk ruang, terdapat beberapa alternatif denah seperti yang terlihat pada gambar. Bentuk ruangan yang memanjang, cenderung menggunakan meja dapur di satu sisi. Sedangkan bentuk ruang yang cenderung bujursangkar bisa menggunakan meja dapur 2 sisi atau siku.

Masih terdapat alternatif lain yang dapat Anda kembangkan sendiri. Yang penting adalah pertahankan diagram aktivitas dapur (linear atau segitiga) dan perhatikan persyaratan-persyaratan kenyamanan seperti aliran udara, pencahayaan, dan sirkulasi.

Untuk memperkirakan apakah lebar ruangan cukup memadai dan nyaman pada saat digunakan, perlu diperiksa terhadap ukuran standar meja dapur dan sirkulasi. Sebagai acuan, berikut ini adalah beberapa ukuran standar. Biasanya lebar meja dapur adalah 50-60 cm. Tinggi meja dapur sekitar 75-80cm. Lebar sirkulasi dimana ada satu meja kerja adalah 80-90 cm. Lebar sirkulasi dimana ada 2 meja kerja adalah 120 cm.

Kamis, 13 Desember 2007

Pemanasan Global dan Rumah Ramah Lingkungan

Terinspirasi dari seminar “Design & Survive: The Role of Architect in Response to Climate Change” di Senayan City – Jakarta, 27 November 2007


Setelah mengikuti seminar tersebut, saya langsung teringat dengan blog rumah-arsitek ini. Sepertinya isu dari seminar tersebut cocok untuk dirangkum dan dimasukkan ke dalam blog ini.

Isu pemanasan global
Dulu sekitar tahun 80-an saat saya masih tinggal di Bandung, pada saat hujan, tidak hanya air yang turun ke bumi tetapi juga butiran-butiran es. Setiap pagi, selalu terasa dingin dan berembun. Tetapi sekarang…. Bandung sudah terasa panas. Dan ternyata peningkatan temperatur itu terjadi dimana-mana di seluruh dunia.

Rupanya bumi semakin lama semakin panas. Temperatur udara meningkat. Es di kutub mencair. Salju di puncak gunung meleleh, akibatnya permukaan air laut naik, banjir pasang pun terjadi. Pantai akan semakin menjorok ke daratan.

Mengerikan….

Sebenarnya proses pemanasan bumi terjadi akibat ulah manusia juga. Banyak aktifitas kita sehari-hari yang pada akhirnya adalah menyumbangkan “panas” pada bumi. Pemakaian AC, pemakaian lemari pendingin, pemakaian kendaraan bermotor, pemakaian listrik, bahkan sampai dengan pemakaian kantong plastik yang ternyata pembuatannya memakan energi yang tidak sedikit.

Apakah ini berarti kita harus kembali ke jaman purba? Tidak pakai listrik, tidak pakai kendaraan bermotor? Yang dapat kita lakukan sekarang adalah seminimal mungkin menggunakan energi, apalagi yang bersumber dari fosil. Mudah-mudahan semakin banyak ahli-ahli yang menemukan material-material baru yang ramah lingkungan. Mudah-mudahan semakin banyak produsen-produsen yang menghasilkan alat-alat dan perangkat yang hemat energi.


Rumah yang Ramah Lingkungan
Banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi “sumbangan” ke pemanasan bumi. Kalau kita berbicara dari sudut desain rumah dan kegiatan sehari-hari di dalam rumah, maka kita bisa mulai dari apa yang dapat kita lakukan.

Jika sedang dalam proses mendesain rumah, sebaiknya kita mulai menerapkan konsep rumah hemat energi. Kita harus lebih banyak memanfaatkan pengudaraan alami dan pencahayaan alami. Desain ruang sedemikian rupa sehingga jika digunakan tidak bergantung sepenuhnya pada AC dan lampu.

Memanfaatkan cahaya matahari harus cermat. Yang kita perlukan adalah “terang” nya, sedangkan “panas” nya harus kita hindari. Jendela kaca harus berkanopi (memiliki “sun shading”), sehingga terpaan langsung cahaya matahari dapat diminimalkan. Bentuk “sun shading” ada yang vertikal dan ada yang horisontal. Pemanfaatan keduanya harus disesuaikan dengan posisi jendela kita, apakah menghadap timur/barat atau utara/selatan.
Energi matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik. Yang sudah banyak digunakan adalah pemanfaatan energi matahari untuk memanaskan air.

Untuk memanfaatkan pengudaraan alami, perlu diperhatikan arah angin. Agar udara di dalam rumah dapat mengalir maka harus ada lubang ventilasi pada arah tegak lurus datangnya angin. Jika sejajar dengan arah angin, maka sedikit sekali kemungkinan angin akan masuk ke dalam rumah.

Jika harus menggunakan sistem pengudaraan buatan (Air Conditioning) dan penerangan buatan (lampu), sedapat mungkin menggunakan yang hemat energi. Sekarang ini sudah banyak lampu yang hemat energi. AC yang digunakan harus rutin dibersihkan. Temperatur AC dipasang pada suhu ruangan yaitu 25-26 C.

Kita pun harus mulai membiasakan diri untuk selalu bijak dalam menggunakan listrik. Matikan lampu yang tidak perlu. Peralatan elektronik yang jarang digunakan, dimatikan saja, jangan menggunakan mode “standby”.

Tindakan yang kita lakukan menghadapi pemanasan global, sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan hemat energi. Upaya-upaya menjaga lingkungan harus dimulai dari setiap rumah. Misalnya, jangan hanya berharap akan ada taman kota yang penuh dengan pohon-pohon hijau sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.
Mungkin sudah saatnya bagi kita, di setiap rumah, mulai menanam satu pohon. Lebih banyak tentunya lebih baik. Selain itu, di setiap rumah mulai membuat sumur resapan. Paling tidak satu sumur resapan. Dengan demikian air hujan tidak mengalir di permukaan tanah begitu saja, sehingga akan menambah volume air banjir dan air tanah menjadi semakin kritis.

Ada baiknya pula kalau kita mulai memperhatikan untuk tidak menutup seluruh permukaan tanah di halaman rumah dengan perkerasan yang kedap air. Ada rumah tinggal yang seluruh halamannya ditutup adukan semen atau concrete-block/paving-block beralaskan adukan semen dengan tujuan untuk mudah dibersihkan. Sebaiknya kita tidak melakukan yang demikian.

Banyak hal yang dapat kita lakukan. Kita mulai dari yang mudah bagi kita. Sedikit tindakan lebih baik daripada tidak sama sekali.
Kira-kira apa lagi yang dapat kita lakukan untuk bumi kita tercinta, sebagai warisan untuk anak-cucu kita?