Senin, 28 April 2008

Ulasan Proyek : Rumah Tinggal dengan Fungsi Tambahan

Produk desain

Produk desain rumah ini adalah gambar skematik, yang terdiri denah, tampak, dan perspektif 3D.







Deskripsi Kebutuhan dan Keinginan Klien

Rumah tinggal seringkali difungsikan ganda. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat usaha atau kegiatan lainnya yang sesekali terjadi dan membutuhkan ruang khusus.

Rumah tinggal ini pun mempunyai fungsi ekstra yaitu menjadi tempat kumpul keluarga besar dan tempat senam yang berlangsung seminggu sekali. Sebagai tempat kumpul keluarga diharapkan anak-anak dapat bermain dan berlari. Sesekali mungkin diadakan acara bakar sate/jagung atau barbeque. Sebagai tempat senam seminggu sekali, tentunya diperlukan ruangan yang cukup luas dan udara yang segar. Karena berlokasi di daerah yang cukup sejuk (Bandung), maka diharapkan tanpa menggunakan AC, udara tetap terasa nyaman di saat acara senam berlangsung.


Dari segi bentuk bangunan, klien menginginkan bentuk yang terlihat lebih simpel dan memanfaatkan material batu alam, tetapi tetap diinginkan ada bagian muka bangunan yang warna catnya dapat diganti-ganti.


Konsep desain

Untuk mewadahi kebutuhan dan keinginan khusus tersebut, konsep utama rumah ini adalah ruang mengalir dimana ruang menjadi tidak banyak sekat. Oleh karena itu
disediakan ruang-ruang semi terbuka yang dapat sewaktu-waktu dialihfungsikan.

Fungsi-fungsi privat seperti ruang tidur utama dan anak-anak diletakkan di lantai 2 sehingga meskipun ada acara, ruang-ruang tersebut tidak akan terganggu.




DESAIN











Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari klien, maka rumah tinggal ini didesain sebagai berikut:

  • Ruang tamu dibuat terbuka ke arah taman dalam.
  • Ruang garasi dan taman tidak bersekat, sehingga sewaktu-waktu garasi dan taman dapat digunakan untuk senam bersama atau tempat bermain anak-anak di kala acara kumpul keluarga besar.
  • Taman dalam memiliki kolam sehingga dapat dinikmati dari ruang tamu dan garasi.
  • Ruang keluarga dan ruang makan dibuat tanpa sekat, sehingga ruangan terasa lebih luas.
  • Musholla berada di pojok, jauh dari TV. Musholla memiliki sedikit lubang cahaya dari atas (skylight), sehingga akan terlihat permainan bayangan matahari yang akan memberikan kesan tenang dan artistik.
  • Ruang bawah tangga dimanfaatkan sebagai kamar mandi dan lemari pakaian kamar tidur tamu.
  • Ruang tidur utama cukup luas, dilengkapi dengan wardrobe dan kamar mandi.
  • Ruang tidur seluruhnya mempunyai jendela kea rah luar untuk mendapatkan cahaya dan udara alami.

Selasa, 12 Februari 2008

Merencanakan Dapur



Salah satu area servis di dalam rumah tinggal adalah dapur dimana menjadi tempat mengolah bahan makanan. Sebagai salah satu fungsi servis, seringkali perencanaan dapur menjadi terabaikan.

Memang kebutuhan setiap orang pada sebuah dapur berbeda-beda. Ada yang senang memasak, sehingga ukuran dapur luas dan dipenuhi dengan peralatan yang lengkap. Ada juga yang tidak terlalu suka berlama-lama di dapur atau lebih banyak menggunakan jasa catering untuk memenuhi kebutuhan makanan di rumah. Yang demikian itu tentunya tidak membutuhkan dapur yang luas. Ada juga yang dapurnya digabungkan dengan ruang makan. Salah satu alasan yang pernah dilontarkan adalah karena di saat bunda memasak di dapur, si anak dapat menggunakan meja makan sebagai meja belajarnya.

Meskipun sangat bervariasi, ada beberapa hal standar yang sebaiknya dipenuhi dalam merencanakan dapur.

Tata letak
Dilihat dari kegiatan yang dilakukan di dapur, ada 3 kegiatan utama yaitu
1. persiapan
2. pengolahan
3. penyajian

1. Persiapan. Di dalam kegiatan persiapan, terdapat kegiatan penyimpanan, pencucian, pemotongan bahan-bahan. Sehingga untuk memenuhi kegiatan 1, diperlukan lemari penyimpanan bahan makanan (kulkas), bak cuci, meja potong, dan peralatan lainnya yang mungkin diperlukan misalnya food processor, blender dst.nya. Semakin banyak peralatan yang ingin digunakan tentunya akan memerlukan ruang lebih luas.

2. Pengolahan. Untuk mengolah atau memasak makanan, bisa dilakukan proses menggoreng, merebus, memanggang, dll. Sehingga untuk memenuhi kegiatan 2, diperlukan kompor, tabung gas (jika menggunakan kompor gas), wajan, panci, oven, dll.

3. Penyajian. Untuk menyajikan makan yang telah diolah, perlu disiapkan wadah untuk disajikan di meja makan, atau meja saji. Sehingga untuk kegiatan 3 diperlukan tempat penyimpanan wadah/piring/mangkuk dll. Secara peletakan ruang, area penyajian ini sebaiknya dekat dengan ruang makan atau meja makan.

Ketiga kegiatan tersebut merupakan kegiatan utama di dalam dapur yang sifatnya berurutan. Dari kegiatan 1 ke kegiatan 2, dari kegiatan 2 dilanjutkan ke kegiatan 3. Sebenarnya setelah penyajian akan berlangsung kegiatan pembersihan. Fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan ini sudah tersedia di kegiatan 1.


Diagram tata letak dapur dapat dilihat pada gambar.







Ventilasi Udara
Di dalam proses pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau-bauan yang mungkin akan mengganggu. Terkadang juga dihasilkan asap. Oleh karena itu, sangat penting untuk merencanakan dapur dengan aliran udara yang baik.

Jika memungkinkan, gunakan sistem ventilasi pasif. Caranya dengan membuat lubang angin di dua sisi dinding yang berseberangan. Seringkali karena kondisi ruangan dan keterbatasan lahan, hal tersebut sukar untuk dilakukan. Untuk mengatasinya, perlu dibuat exhaust fan, yang akan mengeluarkan udara panas dari dapur.


Alternatif Denah
Berdasarkan bentuk ruang, terdapat beberapa alternatif denah seperti yang terlihat pada gambar. Bentuk ruangan yang memanjang, cenderung menggunakan meja dapur di satu sisi. Sedangkan bentuk ruang yang cenderung bujursangkar bisa menggunakan meja dapur 2 sisi atau siku.

Masih terdapat alternatif lain yang dapat Anda kembangkan sendiri. Yang penting adalah pertahankan diagram aktivitas dapur (linear atau segitiga) dan perhatikan persyaratan-persyaratan kenyamanan seperti aliran udara, pencahayaan, dan sirkulasi.

Untuk memperkirakan apakah lebar ruangan cukup memadai dan nyaman pada saat digunakan, perlu diperiksa terhadap ukuran standar meja dapur dan sirkulasi. Sebagai acuan, berikut ini adalah beberapa ukuran standar. Biasanya lebar meja dapur adalah 50-60 cm. Tinggi meja dapur sekitar 75-80cm. Lebar sirkulasi dimana ada satu meja kerja adalah 80-90 cm. Lebar sirkulasi dimana ada 2 meja kerja adalah 120 cm.

Kamis, 13 Desember 2007

Pemanasan Global dan Rumah Ramah Lingkungan

Terinspirasi dari seminar “Design & Survive: The Role of Architect in Response to Climate Change” di Senayan City – Jakarta, 27 November 2007


Setelah mengikuti seminar tersebut, saya langsung teringat dengan blog rumah-arsitek ini. Sepertinya isu dari seminar tersebut cocok untuk dirangkum dan dimasukkan ke dalam blog ini.

Isu pemanasan global
Dulu sekitar tahun 80-an saat saya masih tinggal di Bandung, pada saat hujan, tidak hanya air yang turun ke bumi tetapi juga butiran-butiran es. Setiap pagi, selalu terasa dingin dan berembun. Tetapi sekarang…. Bandung sudah terasa panas. Dan ternyata peningkatan temperatur itu terjadi dimana-mana di seluruh dunia.

Rupanya bumi semakin lama semakin panas. Temperatur udara meningkat. Es di kutub mencair. Salju di puncak gunung meleleh, akibatnya permukaan air laut naik, banjir pasang pun terjadi. Pantai akan semakin menjorok ke daratan.

Mengerikan….

Sebenarnya proses pemanasan bumi terjadi akibat ulah manusia juga. Banyak aktifitas kita sehari-hari yang pada akhirnya adalah menyumbangkan “panas” pada bumi. Pemakaian AC, pemakaian lemari pendingin, pemakaian kendaraan bermotor, pemakaian listrik, bahkan sampai dengan pemakaian kantong plastik yang ternyata pembuatannya memakan energi yang tidak sedikit.

Apakah ini berarti kita harus kembali ke jaman purba? Tidak pakai listrik, tidak pakai kendaraan bermotor? Yang dapat kita lakukan sekarang adalah seminimal mungkin menggunakan energi, apalagi yang bersumber dari fosil. Mudah-mudahan semakin banyak ahli-ahli yang menemukan material-material baru yang ramah lingkungan. Mudah-mudahan semakin banyak produsen-produsen yang menghasilkan alat-alat dan perangkat yang hemat energi.


Rumah yang Ramah Lingkungan
Banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi “sumbangan” ke pemanasan bumi. Kalau kita berbicara dari sudut desain rumah dan kegiatan sehari-hari di dalam rumah, maka kita bisa mulai dari apa yang dapat kita lakukan.

Jika sedang dalam proses mendesain rumah, sebaiknya kita mulai menerapkan konsep rumah hemat energi. Kita harus lebih banyak memanfaatkan pengudaraan alami dan pencahayaan alami. Desain ruang sedemikian rupa sehingga jika digunakan tidak bergantung sepenuhnya pada AC dan lampu.

Memanfaatkan cahaya matahari harus cermat. Yang kita perlukan adalah “terang” nya, sedangkan “panas” nya harus kita hindari. Jendela kaca harus berkanopi (memiliki “sun shading”), sehingga terpaan langsung cahaya matahari dapat diminimalkan. Bentuk “sun shading” ada yang vertikal dan ada yang horisontal. Pemanfaatan keduanya harus disesuaikan dengan posisi jendela kita, apakah menghadap timur/barat atau utara/selatan.
Energi matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik. Yang sudah banyak digunakan adalah pemanfaatan energi matahari untuk memanaskan air.

Untuk memanfaatkan pengudaraan alami, perlu diperhatikan arah angin. Agar udara di dalam rumah dapat mengalir maka harus ada lubang ventilasi pada arah tegak lurus datangnya angin. Jika sejajar dengan arah angin, maka sedikit sekali kemungkinan angin akan masuk ke dalam rumah.

Jika harus menggunakan sistem pengudaraan buatan (Air Conditioning) dan penerangan buatan (lampu), sedapat mungkin menggunakan yang hemat energi. Sekarang ini sudah banyak lampu yang hemat energi. AC yang digunakan harus rutin dibersihkan. Temperatur AC dipasang pada suhu ruangan yaitu 25-26 C.

Kita pun harus mulai membiasakan diri untuk selalu bijak dalam menggunakan listrik. Matikan lampu yang tidak perlu. Peralatan elektronik yang jarang digunakan, dimatikan saja, jangan menggunakan mode “standby”.

Tindakan yang kita lakukan menghadapi pemanasan global, sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan hemat energi. Upaya-upaya menjaga lingkungan harus dimulai dari setiap rumah. Misalnya, jangan hanya berharap akan ada taman kota yang penuh dengan pohon-pohon hijau sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.
Mungkin sudah saatnya bagi kita, di setiap rumah, mulai menanam satu pohon. Lebih banyak tentunya lebih baik. Selain itu, di setiap rumah mulai membuat sumur resapan. Paling tidak satu sumur resapan. Dengan demikian air hujan tidak mengalir di permukaan tanah begitu saja, sehingga akan menambah volume air banjir dan air tanah menjadi semakin kritis.

Ada baiknya pula kalau kita mulai memperhatikan untuk tidak menutup seluruh permukaan tanah di halaman rumah dengan perkerasan yang kedap air. Ada rumah tinggal yang seluruh halamannya ditutup adukan semen atau concrete-block/paving-block beralaskan adukan semen dengan tujuan untuk mudah dibersihkan. Sebaiknya kita tidak melakukan yang demikian.

Banyak hal yang dapat kita lakukan. Kita mulai dari yang mudah bagi kita. Sedikit tindakan lebih baik daripada tidak sama sekali.
Kira-kira apa lagi yang dapat kita lakukan untuk bumi kita tercinta, sebagai warisan untuk anak-cucu kita?

Senin, 10 Desember 2007

Merencanakan Program Ruang dan Diagram Ruang

Tanya:
Assalamualaikum Bapak / Ibu Arsitek,
Nama saya Vivi, saya baru beli rumah di Tangerang type 22/72. Saya mohon masukkannya untuk berbagi dalam hal merancang rumah. Saya ingin membangun 2 lantai. Untuk lantai dasar saya mau ada :

1. 1 kamar utama
2. 1 kamar mandi
3. ruang keluarga
4. ruang tamu
5. dapur
6. taman belakang
7. teras
8. carport
9. taman depan

Untuk lantai 2 :

1. 2 kamar anak
2. ruang sholat
3. tempat jemuran
4. teras atas

Saya rasa cukup demikian. Saya menunggu jawaban anda secepatnya. Terima kasih

Wassalamualaikum..Wr.. Wb..
Vivie


Jawab:

Wa alaikum salam….. Ibu Vivie…
Sepertinya Ibu ingin segera mengembangkan rumah yang baru dibeli. Sayangnya, data kondisi eksisting yang Ibu berikan sangat minim. Mudah-mudahan penjelasan di bawah ini dapat membantu.

Dalam perancangan rumah, tahap awal yang harus dilakukan adalah menyusun program ruang yang terdiri dari nama-nama ruangan seperti yang telah Ibu buat dan perkiraan luasannya.

Pada tanah di atas 72 m2, area yang dapat dibangun dengan asumsi KDB 70% adalah +/- 50 m2 pada lantai dasar. Ini berarti luas lantai total pada lantai dasar tidak boleh melebihi 50 m2. Carport dan taman masuk dalam “ruang terbuka”, jadi tidak masuk dalam perhitungan luas lantai. (KDB-Koefisien Dasar Bangunan, adalah suatu angka yang ditetapkan oleh Dinas Tata Kota. Untuk daerah yang berfungsi sebagai resapan air, angka KDB sangat kecil bisa sampai 30%. )

Perkiraan luas ruangan adalah sebagai berikut:
Lantai 1:
Kamar utama 12 m2
Kamar mandi 3 m2
Ruang Keluarga 16 m2 (juga berfungsi sebagai ruang makan)
Ruang Tamu 6 m2
Dapur 5 m2
------------------------------------------
Subtotal 42 m2
Sirkulasi 15-20% 8 m2
------------------------------------------
Total 1 50 m2


Lantai 2:
Kamar Anak 1 9 m2
Kamar Anak 2 9 m2
Ruang Sholat 6 m2
Cuci Jemur 6 m2
Kamar mandi 3 m2
------------------------------------------
Subtotal 33 m2
Sirkulasi 15-20% 6 m2
------------------------------------------
Total 2 40 m2

Luas teras tidak dicantumkan karena dapat disesuaikan pada waktu merancang.
Luas carport ideal adalah sekitar 2,4 x 5 m, sirkulasi di sekitar kendaraan yang di parkir akan terasa nyaman. Seringkali karena tanah tidak mencukupi, ukurannya menjadi lebih kecil.

Berdasarkan perkiraan luas tersebut, denah dapat disusun dan disesuaikan dengan ukuran tanah dan kondisi setempat.

Beberapa masukan tentang desain adalah sebagai berikut:

  • Agar ruangan tidak terasa sempit, sebaiknya ruang tamu dan ruang keluarga menyatu.
  • Ruang bawah tangga dimanfaatkan untuk kamar mandi pada lantai 1.
  • Taman belakang sedapat mungkin berada di antara dapur, ruang keluarga dan kamar mandi.
  • Bentuk ruang sholat harus memperhatikan arah kiblat. Sehingga ukuran dan kapasitas ruangan akan optimal

    Berikut ini adalah diagram ruang yang menunjukkan hubungan setiap ruang. Tata letak dan ukuran ruang dapat diatur dan disesuaikan dengan ukuran tanah.

Kamis, 22 November 2007

Renovasi Lebih Mahal daripada Membangun Baru?

Tanya:

Saya berniat merenovasi rumah dari yg satu lantai menjadi 2 lantai karena kebutuhan jumlah kamar yg kurang, dg merombak sebagian dari bangunan (lantai 1) yg ada sebelumnya. Yg ingin saya tanyakan adalah
1. Apakah langkah saya merombak sebagian lantai 1 dg menambah 1 lantai bisa menghemat biaya pembangunan atau sama saja jika saya merombak total lantai bawah? Masalahnya saya juga tidak tahu apakah bangunan sebelumnya mempunyai pondasi yg cukup utk 2 lantai.
2. Berapa kira kira biaya per meter perseginya untuk bangunan 2 lantai untuk rumah sedang (menengah) untuk saat ini?

Terimakasih saya ucapkan atas perhatiannya
Ade

Jawab:
Ibu Ade yang terhormat, terima kasih atas pertanyaannya.

Merenovasi rumah dengan cara merombak sebagian bangunan dapat dilakukan jika bagian rumah yang tidak dirombak:

  • tidak banyak mengalami perubahan desain
  • tidak banyak terkena bongkaran untuk pondasi 2 lantai
  • kondisi bangunan masih kuat
  • areanya cukup luas
  • desain bangunan baru masih terlihat serasi dengan bangunan lama

Tentunya cara ini dapat menghemat biaya.

Yang sering terjadi, pada waktu proses renovasi dan bangunan hampir selesai, bangunan lama jadi terlihat “buruk” dan akhirnya pemilik rumah merasa harus membongkar bangunan lama. Perubahan-perubahan rencana di tengah jalan seperti itu dapat membuat biaya menjadi lebih besar.

Jika pondasi pada bangunan lama tidak diketahui, pada waktu konstruksi dapat digali dan dilihat apakah pondasinya memungkinkan untuk 2 lantai. Jika tidak maka dapat dilakukan perkuatan-perkuatan setempat atau di lapangan sering disebut pondasi suntik.
Ini menyebabkan bangunan lama harus dibongkar pada titik-titik pondasi (sebagian area lantai dan dinding perlu akan perlu dibongkar). Bisa Ibu bayangkan, jika di ruangan 3x3 terdapat galian untuk 4 titik pondasi di setiap pojok ruangan, maka hampir seluruh lantai dibongkar.

Jadi, sebaiknya Ibu Ade pastikan dahulu kondisi bangunan yang ada sekarang, dan rencanakan lantai 2 sedemikian rupa sehingga tidak banyak membuat bongkaran pada bangunan yang lama. Misalnya dengan cara, bangunan lantai 2 akan berada di atas separuh bangunan lama, separuhnya lagi tetap utuh hanya 1 lantai.

Biaya konstruksi bangunan akan sangat bervariasi, tergantung material yang digunakan, kualitas hasil kerja dan tingkat kesulitan pengerjaan. Perkiraan harga untuk kualitas menengah, sekitar 2 juta - 3 juta/m2.

Minggu, 04 November 2007

Produk Gambar Arsitektur

Gambar desain bangunan yang lengkap terdiri dari gambar Arsitektur, Struktur, Mekanikal dan Elektrikal. Gambar tersebut dikerjakan oleh ahlinya masing-masing. Seringkali, pada desain rumah tinggal yang “dianggap” tidak terlalu rumit, gambar Mekanikal-Elektrikal ataupun gambar Struktur dibuat tidak lengkap.


Untuk gambar arsitektur, ada yang disebut gambar skematik, gambar pengembangan dan gambar detil. Mana yang harus Anda gunakan saat membangun rumah? Silakan lihat di tulisan “Cakupan Jasa Arsitek”. Sedangkan bentuk tampilannya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Contoh Gambar ilustrasi: TAMPAK.
Dapat berupa gambar tampak berwarna atau 3D (tiga dimensi) berupa gambar perspektif dari berbagai arah pandang. Gambar illustrasi biasanya digunakan pada tahap skematik untuk memberikan bayangan kepada klien tentang tampilan/wujud rumahnya.






Contoh Gambar Skematik: DENAH.
Gambar skematik dapat berupa gambar denah, tampak, potongan dan Perspektif.













Contoh Gambar Detil : POTONGAN
Gambar detil dapat berupa gambar rencana tapak, denah, tampak, potongan, rencana atap, rencana lantai, rencana plafon, detil kamar mandi, detil tangga, detil pintu dan jendela, dst.

Kamis, 01 November 2007

Tips Rumah Sehat (2)


Rumah pada lahan yang sempit, seringkali memiliki ruang-ruang yang tidak mendapatkan pencahayaan dan udara alami. Akibatnya, ruangan menjadi terasa pengap dan gelap. Lampu pun harus dinyalakan di siang hari. Selain tidak sehat, pemakaian energi listrik pun menjadi boros.

Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membuat taman terbuka yang berada diantara ruang-ruang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan ruang luar. Sehingga taman menjadi sumber udara alami (“paru-paru” rumah) dan sumber cahaya alami di siang hari.

Ukuran taman tidak harus besar. Bahkan lebar satu meter pun dapat Anda kreasikan. Kalau bisa lebih besar akan lebih baik. Yang perlu diperhatikan adalah taman tersebut tidak beratap. Kalau pun beratap untuk melindungi ruangan dari hujan, sebaiknya menggunakan atap fiber dan memiliki ventilasi udara. Taman dapat berupa taman yang tidak terlalu hijau, yang lebih menonjolkan permainan batu-batuan atau pun air dengan sedikit tanaman. Pada ruangan yang berdekatan dengan taman tersebut dibuat bukaan yang semaksimal mungkin, apakah berupa pintu, jendela yang dapat dibuka atau ventilasi. Agar cahaya dapat dimanfaatkan maksimal, maka pintu ataupun jendela tersebut menggunakan kaca yang cukup besar.

Jika pada rancangan rumah Anda, banyak terjadi ruang-ruang yang tidak memiliki sumber cahaya dan udara alami, maka sebaiknya dibuat beberapa taman di dalam rumah.

Selamat berkreasi!!!